Monday, October 17, 2005

Tutorial MapInfo - Implementasi SIG

Pendahuluan

Sejak SIG pertama kali hadir 1960-an, terjadi perkembangan yang sangat pesat di bidang perangkat lunak SIG baik yang berbasiskan data spasial vektor maupun aster. Beberapa diantara sistem SIG ini dikembangkan dengan tujuan eksperimental di lingkungan akademis di beberapa Universitas.

Sementara sistem-sistem SIG yang lain dikembangkan sebagai sistem yang benar-benar operasional sebagaimana perangkat lunak SIG pada saat ini. Tetapi sayangnya tidak sedikit dari sistem-sistem ini yang kurang berhasil. Artinya, sebagian dari sistem-sistem yang dikembangkan pada saat itu tidak berfungsi secara penuh, dan untuk analisis spasial. Sementara pada kasu-kasus yang lain, sistem-sistem (SIG) tersebut masih sering mengalami gangguan seperti ‘hang’ sehingga menyebabkan kemacetan atau kegagalan dalam menjalankan fungsi-fungsinya.

Secara umum Perancangan SIG dapat dibagi menjadi dua komponen utama, yakni perancangan perangkat lunak SIG, dan perancangan sistem SIG. Perancangan perangkat lunak SIG memerlukan pengetahuan teknis yang luas mengenai struktur data, model-model data, dan pemrogaman komputer.

Pekerjaan ini sangat menantang diantara profesi-profesi yang berpenghasilan tinggi, selain itu juga memerlukan pengetahuan-pengetahuan mengenai sains dan rekayasa di bidang komputer sebagai tambahan terhadap ilmu dasar SIG. Dengan demikian, siapapun yang memenuhi syarat, dapat memasuki bidang yang sangat menjanjikan ini , terutama karena perubahan dan perkembangan yang sangat cepat di bidang industri.

Sementara itu, perancangan sistem SIG menekankan faktor interaksi-intaraksi yang terjadi di antara manusia sebagai individu, kelompok dengan komputer sebagai komponen-komponen sistem yang masing-masing memiliki fungsi-fungsi tersendiri di dalam organisasi.

Aspek studi-studi mengenai perancangan SIG akan memperluas pengertian dan bahkan memperkaya definisi SIG itu sendiri. SIG tidak sekedar perhitungan, tetapi juga membahas masalah-masalah bagaimana mengintegrasikan sistem ke dalam organisasi, bagaimana sistem mempengaruhi pola pikir dan kerja manusia, dan bagaimana kelak sistem merubah fungsi-fungsi organisasi.

Sebagaimana dapat dilihat, isu-isu perancangan teknis tidak dapat dipisahkan dari isu-isu institusionalnya. Suatu sistem SIG yang dapat dikatakan sukses dari sisi perancangan teknisnya sekalipun kemungkinan masih akan menemui kegagalan jika tidak mendapatkan dukungan organisasi atau sponsor eksternal. Sebagai contoh, sekalipun usaha-usaha yang telah dilakukan (diberbagai bidang usaha yang berpotensi berbasiskan SIG, misalnya marketing, banking, perumahan, pengelolaan bahan galian, tambang, mineral dan sumber daya alam lainnya, dll.) telah mendapat kesuksesan di dalam suatu organisasi, tetapi jika tingkatan manajemen yang lebih tinggi di dalam organisasi yang bersangkutan melihat bahwa perluasan pengoperasiaan sistem SIG-nya justru berlebihan, maka kemungkinan pengoperasiaan sistem SIG-nya akan dibatasi atau bahkan dihentikan sementara. Atau, jika dukungan dana eksternal yang biasanya diperoleh dari luar organisasi untuk pengoperasiaan sistem SIG-nya gagal di dapat, kemungkinan besar pengoperasiaan sistem SIG-nya sama sekali dihentikan.

Pendekatan Rekayasa Perangkat Lunak

Salah satu cabang ilmu komputer yang relatif baru adalah rekayasa perangkat lunak. Cabang ini merupakan teknologi yang terdiri dari beberapa layer. Layer proses bertindak sebagai perekat yang mempertahankan layers teknologi dan memungkinkan pengembangan perangkat lunak komputer menjadi rasional dan tepat waktu. Selain itu, layer proses juga mendefinisikan framework yang harus didirikan agar penyerahan teknologi rekayasa perangkat lunak menjadi efektif.

Sementara layer metode menyediakan teknik bagaimana membangun perangkat lunak, layer ini juga meliputi tugas-tugas yang mencakup analisis (kebutuhan sistem atau kebutuhan pengguna), perancangan, implementasi (pemrograman atau coding), pengujian (testing), dan pengoperasiaan dan pemeliharaan. Sedangkan layer tools memberikan dukungan otomatis atau semi otomatis terhadap layers proses dan metode. Jika tools yang digunakan saling terintegrasi sehingga informasi yang dihasilkan oleh suatu tool dapat digunakan tools yang lain, maka sistemnya sering disebut CASE ( Computer Aided Software Engineering).

Untuk memecahkan masalah-masalah aktual di dalam dunia industri, maka para analis (ahli rekayasa) harus menggabungkan startegi pengembangan yang meliputi layers proses, metode, dan tools diatas. Startegi ini sering disebut sebagai model proses atau paradigma rekayasa perangkat lunak.

Tugas-tugas seorang perancang SIG tidak sekedar menuliskan kode, program, atau bahasa skrip, tetapi lebih pada penyediaan : 1) informasi mengenai model-model dan struktur-struktur data yang tepat, 2) perangkat lunak yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan analisis dengan biaya yang terjangkau, 3) pelatihan-pelatihan yang diperlukan oleh pengguna, dan 4) sistem yang sesuai untuk organisasi yang bersangkutan.

Model-model Perancangan Sistem

Model Waterfall

Model proses yang digunakan untuk pengembangan sistem perangkat lunak yang telah lama dikenal secara luas adalah model atau pradigma siklus hidup klasik yang sering disebut sebagai waterfall. Model ini sangat terstruktur dan bersifat linear.

Model ini memerlukan pendekatan yang sistematis dan sekuensial di dalam mengembangkan sistem perangkat lunaknya. Pengembangan dimulai dari tingkat sistem, analisis, perancangan, implementasi (pemrograman / coding), pengujian (testing), pengoperasiaan dan pemeliharaan.

Rekayasa sistem : Pembuatan suatu perangkat lunak merupakan bagian terbesar dari pengerjaan suatu proyek. Untuk pekerjaan dimulai dengan menetapkan segala hal yang diperlukan dalam pelakasanaan proyek.

Analisis : Merupakan tahap dimana sistem dianalissi hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek pembuatan atau pengembangan perangkat lunak.

Perancangan (desain) : Tahap ini merupakan tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pemakai (user). Ada 3 atribut yang pentig dalam proses perancangan, yaitu : struktur data , arsitektur perangkat lunak dan prosedur rinci.

Pemrograman (coding) : Tahap berikutnya adalah menerjemahkan data atau pemecahan masalah yang telah dirancang ke dalam bahasa pemrograman komputer yang telah ditentukan.

Pengujian (testing) : Setelah program selesai dibuat, maka tahap berikutnya adalah uji coba terhadap program tersebut.

Operasi & Pemeliharaan : Perangkat lunak yang telah selesai dibuat dapat mengalami perubahan-perubahan atau penambahan sesuai dengan permintaan user.

Langkah-langkah pengerjaan yang banyak dipergunakan dengan siklus ini adalah pada situasi :

· Urutan-urutan pengerjaan pembuatan program telah sesuai dengan model pengembangan, kadangkala sering terjadi pengulangan.

· Kesukaran menentukan apa yang menjadi inti permasalahan.


Model Prototype

Prototipe adalah proses pembuatan model dari perangkat lunak yang akan dibuat atau dikerjakan sehingga pemakai dapat mengetahui hasil yang kaan didapat.

Prototipe banyak digunakan pada pemakai yang masih baru mengenal pemakaian komputer. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan perangkat lunak yang akan dihasilkan tanpa menertakan rincian pemasukan data, proses dan keluaran yang diperlukan. Disini tim pembuat perangkat lunak belum dapat membayangkan algoritma yang efisien dari sistem operasi yang digunakan . Proses yang terjadi dalam prototipe dapat digambarkan, sebagai berikut :

· Analisis kebutuhan : merupakan proses menganalisis keperluan yang terdapat pada permasalahan yang ada.

· Perancangan desain : Tahap ini merupakan proses perancangan dari model atau prototipe permasalahan yang ada.

· Pembentukan prototipe : Proses buat prototipe di snini adalah pembuatan model secara keseluruhan dari rencana pemecahan masalah.

· Evaluasi prototipe dan perbaikan : Merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap prototipe yang telah dibuat, apabila ada perubahan maka perlu diperbaiki sesuai dengan keiningnan pemakai.

· Produk rekayasa : merupakan hasil dari prototipe yang dibuat dimana telah disetujui oleh pemakai.

Model Spiral

Pengembangan sistem model spiral adalah pemgembangan model yang mengadopsi feture penting milik model-model waterfall (siklus hidup klasik) dan prototyping. Walaupun demikian, model inipun memiliki feature penting yang tidak dimiliki oleh model-model lainyang diasopsinya (analisis resiko). Ciri khas model ini adalah empat aktifitas berikut :

· Perencanaan
· Analisis resiko
· Produk rekayasa
· Evaluasi oleh pengguna

Walupun demikian, adalah sangat jarang suatu pengembangan perangkat lunak yang menggunakan model spiral berhasil mengembangkan perangkat lunak akhir (produk rekayasa) dalam satu siklus pengembangan. Artinya, jika hal ini terjadi, maka prototipe pertama langsung diterima oleh penggunanya walaupun dikembangkan hanya berdasarkan pengumpulan kebutuhan awal semata.

Oleh karena itu, pada umumnya hasil evaluasi mengharuskan adanya koreksi, perubahan, dan modifikasi pada prototipenya. Dengan demikian, pengembangan akan berlanjut pada siklus-siklus berikutnya.

Analisis Cost & Benefit

Analisis ini meliputi dua aspek, yakni aspek manfaat dan aspek biayanya. Dari kedua aspek tersebut, aspek biaya dapat dihitung dengan mudah. Yakni berdasarkan seluruh komponen biaya yang terlibat dalam proses pengadaan dan pentelenggaraan yang bersangkutan, termasuk investasi , pengembangan sumber daya manusia, bahan, tenaga kerja dan sebagainya.

Untuk menghitung aspek manfaat secara kuantitatif diperlukan kemampuan menentukan nilai ekonomis dari produk yang dihasilkan. Nilai ekonomis ini tergantung dari supply dan demand terhadap komoditi yang bersangkutan. Yang menjadi masalah adalah sampai dimana kaidah-kaidah tersebut diatas dapat diterapkan dalam pengembangan dan penyelenggaraan SIG.

Dalam hubungan ini, sedikit diuraikan pengalaman pada waktu BAPPENAS memerlukan suatu justifikasi bagi penyelenggaraan (dan pengganggaran) proyek nasional bagi pemetaan dasar (pemetaan rupa bumi) secara sistematis.

Sebelumnya, seluruh pemetaan rupa bumi selalau diselenggarakan dalam rangka suatu proyek fisik pembangunan, hingga langsung menunjang (bermanfaat bagi) proyek fisik yang terlebih dahulu telah dinilai secara kuantitatif dari segi manfaat dan biayanya.

Dalam hubungan itu biaya pemetaan dapat dihitung sebagai bagian dari seluruh biaya proyek yang manfaatnya dapat dikuantifikasikan dengan relatif mudah. Dengan demikian analisis benefit & cost bagi pemetaan tersebut dapat dihiitung dengan mudah pula.

Lain halnya dengan pemetaan dasar nasional yang sistematis, biayanya dapat dihitung dengan mudah, akan tetapi tidak demikian halnya dengan manfaatnya, karena sukar untuk diidentifikasi.

Ini disebabkan peta bukanlah sekedar komoditi, melainkan lebih dari itu adalah sumber informasi yang dapat dipergunakan oleh beberapa disiplin ilmu dan berbagai sektor pembangunan yang berimpilikasi spasial. Selain itu manfaatnya bersifat “cummulative over time”.

Untuk justifikasi proyek pemetaan dasar nasional tersebut manfaatnya dirumuskan secara indikatif dilandaskan da fungsinya sebagai sarana perpaduan bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta atas pendekatan yang memperpadukan pemetaan dasar dengan investasi sumber daya alam.

Ternyata pendekatan demikian mendapat tanggapan positif dari Bank Dunia, hingga diperoleh pembiayaan bagi Resources Survey and Mapping Project dan Resources Aerial Photography Project, yang dapat dikatakan merupakan awal dari penyediaan biaya pemetaan dasar secara sistematis oleh Bappenas.

Tentang SIG

Secara umum dikenal Benefit – Cost model sebagai berikut :


(Jumlah kebutuhan) * (Nilai Produk)
B/C = -------------------------------------------------
Biaya Produksi

Sebagai manifestasi dari penyediaan dan permintaan (supply and demand)

Sebagaimana halnya dengan pemetaan, aspek biaya penyelenggaraan SIG dapat dihitung dengan mudah, yakni meliputi biaya untuk :

a. Perancangan dan pengadaan perangkat kersa serta pemeliharaannya.
b. Perancangan dan pengadaan piranti lunak serta pemeliharaannya.
c. Perencanaan dan pengadaan Basis Data serta pemeliharaannya.
d. Pelatihan
e. Penyusunan program-program aplikasi
f. Penyelenggaraan / penerapan SIG.
g. Overhead dan bahan

Untuk dapat mengkuantifikasi manfaat, maka harus mampu untuk mengindentifikasi produk-produk SIG yang akan dihasilkan, memperkirakan jumlah kebutuhan akan produk-produk tersebut serta menentukan nilai produk-produk itu.

Pertanyaan-pertanyaan yang timbul adalah :

Dapatkah pada awal pengembangan SIG, diantisipasi produk-produk SIG yang akan dibutuhkan ?

Dapatkah dari awal dieprkirakan kebutuhan jumlah berbagai produk SIG itu ?

Dapatkah ditentukan nilai / harga produk-produk tersebut ?

Kiranya ketiga pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab, bahkan mungkin sekali tidak dapat diperoleh jawaban kuantitatif yang memuaskan, Mengapa ?.

Bilamana SIG hanya dipergunakan sebagai suatu sarana pemetaan berkomputer suatu lembaga tertentu, dapat diperkirakan dengan mudah jumlah dan jenis peta serta skala yang diperlukan. Akan tetapi, sebagaimana diketahui SIG bukan hanya suatu sarana pemetaan melainkan disamping itu merupakan suatu sistem yang dapat dipergunakan sebagai sarana bantu pengambilan keputusan maupun sarana bantu manjemen operasional.

Dalam hubungan itu penggunaannya berkembang menurut keadaan serta perkembangan masalah yang terjadi, hingga memungkinkan pengambilan keputusan ataupun langkah-langkah operasional sebagai respons terhadap perkembangan sewaktu-waktu. Dengan demikian produk-produk SIG tidak dapat diantisipasi baik jenis maupun jumlahnya

Nilai ekonomi SIG, sebagaimana halnya dengan peta, produk-produk SIG berupa berbagai alternatif keputusan-keputusan atau langkah-langkah yang lebih baik atau lebih ekonomis, merupakan bagian dari suatu proses penanganan proyek / kegiatan. Sabagaiman pula halnya dengan peta, nilai ekonomis yang dapat dikuantifikasi berlaku untuk keseluruhan proyek / kegiatan itu, tidak mudah untuk aspek SIG tersendiri.

Karenanya nilai ekonomis SIG ini tidak dapat dievaluasi dengan Hampiran Benefit – Cost Model belaka, melainkan disamping itu melalui Hampiran Cost – Performance bagi manfaat yang dapat dikuantifikasi (tangible benefits) dan melalaui (intangible benefits).

Evaluasi Nilai Ekonomis SIG

Sebagimana telah diuraikan diatas, manfaat SIG meliputi manfaat yang dapat dikuantifikasi (tangible benefits) dan manfaat yang ttidak dapat dikuantifikasi (intangible benefits).

Diantara tangible benefits dapat berupa :

· Penghematan waktu dalam produksi peta serta update-nya
· Mengurangi duplikasi
· Penghematan ruang penyimpanan
· Peningkatan revenue dari penjualan data / informasi
· Peningkatan efektifitas administrasi
· Perencanaan / perekayasaan yang lebih baik
· Peningkatan efektifitas pengendalian dan operasional

Sedangkan intangible benefits anata lain :

· Tersedia lebih banyak informasi mutakhir serta penyediannya secara tepat waktu
· Peningkatan mutu analisis dengan tenaga dan waktu lebih sedikit
· Memungkinkan analisis dan penelitian, alternatif lebih banyak yang sebelumnya tidak mungkin / sulit dilaksanakan.
· Peningkatan mutu keputusan hingga memungkinkan perencanaan yang lebih baik
· Peningkatan fleksibilitas untuk penyusunan dan penyesuaian rencana sebagai respons terhadap kondisi yang berubah.
· Tersedia sarana dan forum yang baik bagi peningkatan koordinasi dan integrasi antar disiplin, sektor pembangunan.

Tangible Benefits

Tangible benefits tersebut di atas pada umumnya dapat dikuantifikasi sebagai penghematan biaya, misalnya dibandingkan dengan cara konvensional 9non-digital), hingga dapat disusun suatu grafik cost-performance yang dapat dipergunakan untuk menilai cost-effectiveness dari sistem yang dipergunakan.

Intangible Benefits

Terkadang kategori benefit ini melakukan pendekatan yang subyektif – kuantitatif, yaitu dilihat dari fungsi SIG sebagai sarana bagi peningkatan mutu pengambilan keputusan dalam keadaan risiko ketidak pastiaan.

Dengan demikian, evaluasinya diselenggarakan dalam kaitan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dimana hasil SIG merupakan masukan bagi keputusan / kebijakan (policy decision) yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Dengan cara ini dikaitkannya penilaian manfaat SIG dengan nilai ekonomis tujuan dan sasaran (proyek) yang bersangkutan.

Dalam rangka itu diperlukan :

Perkiraan kontribusi SIG terhadap pengambilan keputusan.

Perkiraan kontribusi pengambilan keputusan terhadap peningkatan mutu proyek atau penghematan biaya proyek hingga nilai intangible benefits ini dapat didekati menurut rumus :

Benefit = Kontribusi SIG * (Kontribusi keputusan * Nilai Ekonomis Proyek)
Subyektifitas dalam penerapan rumus terletak pada perkiraan kontribusi SIG kepada pengambilan keputusan serta kontribusi keputusan kepada peningkatan mutu / efisiensi proyek. Dengan demikian evaluasi ekonomis terhadap intangible benefits SIG hanya dapat didekati secara perkiraan yang subyektif serta tidak normatif.

2 Komentar:

At Tuesday, 17 February, 2009, Blogger Ev@_FILLAH said...

Artikelx OK, pas bgt aq lg butuh artikel ttg aplikasi SIG...

 
At Tuesday, 17 February, 2009, Blogger Ev@_FILLAH said...

Artikelx OK, pas bgt aq lg butuh artikel ttg aplikasi SIG...

 

Post a Comment

Links ke Artikel :

Create a Link

<< Halaman Depan